Tuesday, July 3, 2007

Sajak

Mohd Sayuti Omar.

KIBARKAN PANJI DIRI

Panji itu dinaikkan dengan beraian airmata

yang menggulungkan harapan dan impian

disemah dengan

tetes darah perwira

diiringi selaut doa berkat rakyat jelata

diseru dengan semangat dan pegangan

sebuah aqidah hakiki.

Lalu ia berkibar menjulang angkasa

megah menongkah angin dari tujuh jalur alam.

Harapan umat terpacak di puncaknya

tiangnya menjadi pancang keramat

tempat rakyat pasrahkan diri

mencipta tamadun

lalu kita merasa berhak untuk tegak

atas tapak kaki sendiri

dan menggubal “undang-undang” dengan tinta sejati.

Demikian janji dan sumpah yang diperlembagakan

menjadi slogan

mendakap kehidupan sepanjang masa.

Panji itu dijahit dengan benang semangat

disulam dengan sutera keramat

membentangi sebidang harapan

membuka sebuah padang kehidupan ...

Dukalara...

hari ini setelah setengah abad

ia tidak memberi sesuluh cahaya

demi menyapu mimpi-mimpi ngeri

melainkan cebis nostalgia

atau menjadi perca permainan di sebuah pesta si bocah.

Masih nyaring di telinga,

janji yang dilapaz di bawah panji itu;

harapan konon akan terdampar

lautan biru konon akan terbentang

sebuah cermin besar akan tergantung

... itulah pidato sipemain kata-kata celaka

namun semua itu kering dan pudar

Panji itu yang berkibar

membawa semangat dan keyakinan

menguntai rantai di kaki

membuka semutar kebekuan di kepala

hanya menjadi seruan saja

menjadi simbol kepada tamadun sebuah bangsa

menjadi karcis segelintir kita untuk jadi bongkak

(Apa itu tamadun?

kalau haknya masih terinjak

kalau al-dinnya masih dinodai

kalau budaya bercampur aduk hilang rupa diri!)

Apabila panji penjajah turun merendah diri

dengan penuh muslihat

kita... merdeka merdeka merdeka (setakat melaung)

melupai cerita lalu menanti sebuah arca besar

perut tetiba menjadi kenyang

tidur juga lena

mimpi indah silih berganti

wujudlah kita sebagai wangsa bakal berjaya!

Konon!

Hari ini setelah setengah abad panji berkibar

meganya hanya di mata

perut tetap menangis

kebebasan masih terbelenggu

penindasan bermaharajalela

hak sendiri sirna

makin dilihat ia menjadi kosong

makin dihayati makin ternampak

kepura-puraan merangkak-rangkak

di hadapan.

Apakah perlu panji kebebasan itu diturunkan dan

masing-masing kita mengibarkan panji diri!

Wangsa Melawati,

Kuala Lumpur.

18 Jun – 3 Julay 2007.

No comments: